Penajam Paser Utara, KALIMANTAN TIMUR — Komitmen Pemerintah Republik Indonesia dalam mewujudkan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai episentrum toleransi dunia semakin tidak terbantahkan. Wakil Menteri Agama RI, R. Muhammad Syafi’i, melakukan kunjungan kerja strategis guna meninjau langsung progres pembangunan Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius yang berlokasi di Kawasan Peribadatan IKN, Kalimantan Timur, pada Jumat (20/02/2026). Rumah ibadah yang berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Agung Samarinda ini mencatatkan sejarah baru sebagai Basilika pertama yang berdiri di tanah air.
Kunjungan ini dilakukan di tengah suasana Ramadan yang syahdu di Nusantara, mempertegas pesan bahwa pembangunan IKN tidak hanya mengejar kemajuan infrastruktur fisik, tetapi juga membangun fondasi spiritualitas bangsa yang inklusif. Wamenag Syafi’i menegaskan bahwa proyek monumental ini merupakan representasi nyata dari kehadiran negara dalam menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah di fasilitas yang layak dan representatif.
Integrasi Teknologi Digital Belanda dan Ornamen Liturgi
Dalam tinjauan lapangan tersebut, Wamenag mengungkapkan sebuah fakta menarik mengenai kemegahan infrastruktur gereja ini. Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius akan dilengkapi dengan lonceng dan salib raksasa yang didatangkan khusus dari Belanda. Berbeda dengan lonceng gereja konvensional, fasilitas ini akan dioperasikan menggunakan sistem digital modern yang terintegrasi dengan pusat kendali bangunan cerdas (smart building) di IKN.
“Progres fisik gereja saat ini sudah mencapai tahap penyelesaian akhir. Tim teknis sedang melakukan penataan interior yang sangat detail serta menyiapkan perlengkapan liturgi. Kami menargetkan seluruh proses pemasangan salib dan lonceng digital dari Belanda ini rampung sepenuhnya pada Maret 2026. Dengan demikian, tahun ini fasilitas utama gereja beserta Wisma Uskup sudah bisa dioperasikan secara maksimal,” tegas R. Muhammad Syafi’i saat berbicara kepada awak media di lokasi proyek.
Langkah ini selaras dengan konsep IKN sebagai Smart City, di mana setiap fasilitas publik, termasuk rumah ibadah, mengadopsi teknologi mutakhir tanpa meninggalkan nilai-nilai sakralnya. Pemanfaatan sistem digital ini diharapkan dapat memberikan efisiensi sekaligus estetika baru dalam pelayanan ibadah bagi umat Katolik di ibu kota baru.
Menuju Pertemuan Akbar KWI Mei 2026
Gereja yang memiliki kapasitas daya tampung mencapai 1.600 umat ini tidak hanya disiapkan sebagai tempat ibadah rutin bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan penduduk lokal. Pemerintah memiliki target ambisius agar Basilika ini siap menjadi tuan rumah pertemuan akbar Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026 mendatang. Kehadiran para uskup dari seluruh penjuru Indonesia di IKN akan menjadi momentum internasional untuk menunjukkan betapa rukunnya kehidupan beragama di Indonesia.
Secara teknis, pembangunan ini berdiri di atas lahan yang sangat luas dan strategis. Kompleks Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius mencakup lahan seluas 2.023 hektar di Kawasan Peribadatan, dengan total luas bangunan mencapai 10.612,66 meter persegi. Arsitekturnya dirancang secara komprehensif, terdiri dari gedung gereja utama setinggi empat lantai seluas 8.586 meter persegi dan Wisma Uskup setinggi tiga lantai seluas 1.770 meter persegi yang dilengkapi dengan 43 kamar akomodasi eksklusif.
Fasilitas pendukung lainnya pun dibangun dengan standar kelas dunia. Di dalam kawasan ini, umat dapat menemukan Plaza Jalan Salib, Taman Doa, Goa Maria, serta Pelataran Utama yang dirancang untuk mendukung kegiatan prosesi keagamaan skala besar. Desain bangunannya sendiri merupakan perpaduan harmonis antara kearifan lokal budaya Kalimantan dengan simbol-simbol klasik Katolik, menciptakan ruang ibadah yang tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi. Salah satu yang paling menonjol adalah salib raksasa di atap gereja yang dilengkapi sistem pencahayaan modern, sehingga akan memancarkan keindahan visual di langit IKN pada malam hari.
Ekosistem Multireligius di Jantung Ibu Kota
Pembangunan Basilika ini merupakan bagian awal dari rencana besar Otorita IKN (OIKN) untuk membangun kawasan peribadatan terpadu. Wamenag Syafi’i kembali menekankan bahwa pemerintah telah mengalokasikan lahan untuk rumah ibadah agama-agama lain secara berdampingan. Selain gereja Katolik, pembangunan gereja Protestan, pura, wihara, dan klenteng dipastikan akan segera dimulai tahun ini atau paling lambat pada awal 2027.
“Visi kami adalah memastikan setiap umat beragama memiliki rumah ibadah yang representatif. Gereja Katolik ini hanyalah salah satu simbol dari inklusivitas yang kita bangun di Nusantara. Kami ingin dunia melihat bahwa di jantung pemerintahan baru Indonesia, keberagaman adalah kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan,” ungkap Syafi’i dengan nada optimis.
Dengan ketersediaan fasilitas yang memadai, IKN diharapkan tidak hanya menjadi pusat administrasi negara, tetapi juga menjadi destinasi ziarah religi nasional. Kehadiran Basilika ini diproyeksikan akan menarik minat wisatawan religi dari seluruh Indonesia, yang ingin merasakan pengalaman spiritual di tengah kemajuan teknologi kota masa depan. Transformasi IKN menjadi rumah besar bagi kemanusiaan dan keberagaman kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang sedang terwujud dengan nyata dan tajam.

