Teheran — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan syahid dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menghantam ibu kota Iran, Teheran. Kabar tersebut diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan dikonfirmasi oleh sejumlah media Iran serta internasional.
Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) tersebut dilaporkan menargetkan kompleks kediaman Ayatollah Khamenei di Teheran, dengan puluhan bom dijatuhkan. Media Iran menyebutkan sejumlah anggota keluarga Khamenei, termasuk putri dan cucunya, turut menjadi korban.
Pernyataan resmi disampaikan oleh stasiun televisi pemerintah Iran IRIB, yang menyatakan Khamenei telah “mencapai syahid”. Konfirmasi serupa juga disampaikan kantor berita Tasnim dan Fars, serta dilaporkan oleh Al Jazeera dan CNN International.
Sebagai respons, pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional.
Riwayat Singkat
Profil Ayatollah Ali Khamenei: Dari Santri Mashhad Hingga Menjadi Arsitek Kekuatan Iran
Perjalanan hidup Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar catatan biografi seorang pemuka agama, melainkan cerminan dari transformasi politik Iran modern. Lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939, pria yang kini memegang otoritas tertinggi di Republik Islam Iran tersebut tumbuh dalam kesederhanaan di bawah asuhan Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama yang memegang teguh prinsip hidup rendah hati.
Akar Pendidikan dan Benih Revolusi
Pendidikan awal Khamenei dimulai dari maktab tradisional, tempat ia pertama kali mengenal alfabet dan Al-Qur’an. Ketertarikannya pada teologi membawanya ke seminari di Mashhad, khususnya di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab. Di sana, ia mengasah kemampuan logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam di bawah bimbingan langsung ayahnya serta sejumlah ulama besar.
Titik balik kesadaran politiknya muncul saat ia remaja, ketika terpapar oleh pidato-pidato berapi-api Nawwab Safavi. Sosok ulama tersebut merupakan penentang keras kebijakan Shah Iran yang dianggapnya anti-Islam. Semangat perlawanan ini kemudian mengkristal pada tahun 1962, saat Khamenei memutuskan bergabung dengan barisan pendukung Imam Khomeini untuk menentang rezim Shah yang pro-Barat.
Dedikasi dan Penindasan Politik
Selama 16 tahun sebelum jatuhnya rezim Shah, Khamenei menjadi figur penting dalam gerakan bawah tanah. Keberaniannya membuat Imam Khomeini memercayainya untuk menjalankan misi-misi diplomatik rahasia di antara para ulama besar. Namun, aktivitas ini membuatnya menjadi target utama SAVAK (polisi rahasia Iran kala itu).
Catatan perjuangannya diwarnai dengan serangkaian penindasan:
- Penahanan: Mendekam selama berbulan-bulan di Penjara Gabungan Polisi-SAVAK di Teheran.
- Pembatasan: Dilarang memberikan ceramah umum atau membuka kelas teologi setelah bebas.
- Pengasingan: Menjalani masa pembuangan selama tiga tahun akibat aktivitas politiknya yang terendus intelijen.
Meskipun ditekan, ia tetap konsisten menggerakkan demonstrasi massal hingga revolusi benar-benar meletus dan meruntuhkan monarki pada tahun 1979.
Memimpin di Tengah Kecamuk Perang
Pasca-revolusi, peran Khamenei semakin krusial. Sebelum menduduki kursi pemimpin tertinggi, ia menjabat sebagai Presiden Iran selama periode 1980-an yang penuh gejolak akibat perang dengan Irak. Pengalaman memimpin negara di tengah isolasi internasional—di mana negara-negara Barat mendukung Saddam Hussein—menjadi faktor kunci yang membentuk skeptisisme mendalamnya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
“Konflik berkepanjangan dan rasa isolasi selama perang Irak memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap pengaruh Barat.”
Estafet Kepemimpinan Tertinggi
Tahun 1989 menandai babak baru bagi Iran. Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, Ali Khamenei terpilih untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Di bawah kendalinya, Iran membangun struktur militer dan paramiliter yang solid, memperkuat posisi negara tersebut sebagai pemain kunci dalam geopolitik Timur Tengah hingga hari ini. (Red)

