TEHERAN – Eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington berada di titik didih. Menanggapi pergerakan masif armada perang Amerika Serikat yang dikabarkan tengah menuju Timur Tengah, militer Iran secara terang-terangan menantang balik retorika Presiden Donald Trump.
Komandan senior Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan tinggal diam. Dengan nada dingin, ia memperingatkan bahwa setiap ancaman Washington akan dijawab secara langsung di medan tempur.
“Trump Banyak Bicara, Kami Menunggu di Lapangan”
Dalam pertemuan petinggi IRGC pada Jumat (23/1), Mousavi menanggapi ancaman agresi militer yang dilontarkan Trump pasca kerusuhan domestik di Iran. Ia menilai retorika Trump hanyalah gertakan yang akan berujung pada konsekuensi fatal bagi AS.
“Trump banyak bicara, tetapi dia harus yakin bahwa dia akan menerima jawabannya di lapangan,” tegas Mousavi sebagaimana dilansir Press TV.
Mousavi juga mengklaim bahwa Divisi Dirgantara IRGC saat ini berada di puncak kesiapan tertinggi. Belajar dari “Perang 12 Hari” pada Juni lalu, Iran mengklaim telah menutup semua celah pertahanan dan meningkatkan produksi perangkat keras militer secara signifikan.
Ancaman dari Air Force One: “Armada Besar Sedang Menuju Sana”
Di sisi lain, Donald Trump terus memanaskan suasana. Dari atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengonfirmasi pergerakan kekuatan laut AS menuju wilayah Iran. Meski Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi, laporan intelijen menunjukkan kelompok kapal induk yang dipimpin USS Abraham Lincoln telah bergeser dari Laut Cina Selatan menuju Samudra Hindia.
“Kami memiliki armada besar yang menuju ke arah itu… untuk berjaga-jaga. Mungkin kami tidak perlu menggunakannya, tapi kami punya banyak kapal di sana,” ujar Trump kepada wartawan.
Tak hanya kapal induk, pergerakan pesawat tempur tambahan dan pesawat tanker udara di pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut kian memperkuat spekulasi bahwa Washington tengah menyiapkan opsi serangan militer dalam waktu dekat.
Intelijen Iran: Penunggang Gelap dan Campur Tangan Asing
Ketegangan ini dipicu oleh sikap keras AS terhadap cara Iran menangani protes ekonomi yang terjadi sejak Desember lalu. Teheran menuding protes tersebut telah disusupi oleh elemen perusuh yang didukung oleh intelijen Amerika dan Israel untuk memicu kekacauan sistemik.
Otoritas keamanan Iran mengklaim telah menyita berbagai senjata api ilegal yang ditujukan ke Teheran dan menangkap sejumlah pemimpin kerusuhan yang dianggap sebagai pion asing.
Analisis Situasi
Pengerahan USS Abraham Lincoln dipandang para ahli militer sebagai langkah “unjuk taring” yang sangat berisiko. Dengan Iran yang mengklaim telah memperbaiki kerentanan militernya pasca konflik Juni lalu, kawasan Teluk kini menjadi “kotak korek api” yang siap meledak hanya dengan satu percikan kecil.

