Boven Digoel, PAPUA SELATAN — Aksi terorisme bersenjata kembali mencoreng wajah keamanan di tanah Papua. Sebuah serangan brutal dan terencana menyasar pesawat komersil milik maskapai PT Smart Cakrawala Aviation (Smart Air) di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel. Insiden berdarah ini tidak hanya menghancurkan rasa aman di wilayah pedalaman, tetapi juga merenggut nyawa dua putra terbaik bangsa, Kapten Egon Erawan dan Kapten Baskoro, yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Menanggapi eskalasi kekerasan yang semakin tidak terkendali ini, Kepolisian Daerah (Polda) Papua mengambil langkah tegas dengan menerjunkan tim khusus ke “zona merah” tersebut. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menegaskan bahwa keseriusan negara dalam menindak kelompok separatis ini ditunjukkan dengan keterlibatan langsung pimpinan tinggi kepolisian dalam operasi lapangan.
“Polda Papua telah berkoordinasi intensif dengan Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz. Kami mengirimkan tim investigasi dan pengamanan yang dipimpin langsung oleh Bapak Wakapolda Papua, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, untuk memastikan hukum ditegakkan di lokasi kejadian,” ujar Sukarnito dengan nada tegas saat memberikan keterangan pers, Rabu (11/02/2026).
Kronologi yang dihimpun menunjukkan betapa matangnya rencana serangan yang dilakukan oleh kelompok tak dikenal ini. Pesawat jenis Karavan dengan nomor registrasi PK-SNR lepas landas dari Bandara Tanah Merah pada pukul 10.35 WIT menuju Koroway Batu. Namun, mendaratnya pesawat tersebut justru menjadi awal dari tragedi kemanusiaan yang memilukan.
Sekitar pukul 11.08 WIT, sesaat setelah roda pesawat menyentuh landasan, rentetan peluru tajam dimuntahkan secara sporadis dari arah hutan yang mengepung area bandara. Para pelaku yang bersembunyi di balik rimbunnya vegetasi menjadikan badan pesawat sebagai sasaran tembak tanpa ampun. Tembakan tersebut secara spesifik menyasar bagian kokpit, yang mengakibatkan Kapten Egon Erawan dan Kapten Baskoro tewas seketika di balik kemudi akibat luka tembak yang sangat fatal.
Di dalam kabin, suasana berubah menjadi horor bagi 13 penumpang yang ada, termasuk seorang bayi yang masih suci dari konflik. Meski pesawat dihujani timah panas, 12 penumpang dewasa dan satu bayi tersebut dilaporkan selamat secara ajaib dari terjangan peluru, meski kini mereka harus menanggung trauma psikologis yang sangat mendalam seumur hidup mereka.
Penyerangan terhadap pesawat sipil adalah kejahatan luar biasa yang melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia. Kelompok ini secara sadar menargetkan urat nadi transportasi yang menjadi satu-satunya penyambung hidup masyarakat di daerah terpencil. Keberadaan tim yang dipimpin Wakapolda Faizal Ramadhani di lokasi diharapkan bukan sekadar melakukan pengecekan, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap teror yang terus merongrong kedaulatan di Papua Selatan.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman Laisa, menyatakan kemarahan dan duka mendalam atas kejadian ini. Ia memastikan pihaknya terus menjalin komunikasi nonstop dengan Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke untuk memantau situasi keamanan di bandara-bandara perintis.
“Pemerintah tidak akan tinggal diam atas serangan terhadap aset sipil dan awak penerbangan. Kami sedang mengumpulkan seluruh bukti lapangan untuk dievaluasi secara menyeluruh. Keamanan penerbangan di wilayah rawan harus ditingkatkan berlipat ganda agar tragedi serupa tidak kembali terulang,” tegas Lukman Laisa.
Tragedi Smart Air ini menjadi tamparan keras bagi jaminan keamanan di Papua. Publik kini menanti tindakan nyata dari tim gabungan TNI-Polri untuk segera meringkus aktor intelektual di balik serangan biadab ini. Gugurnya dua pilot tersebut harus menjadi momentum bagi negara untuk tidak lagi memberikan ruang sedikitpun bagi kelompok-kelompok bersenjata yang terus mengusik kedamaian dengan cara-cara yang pengecut. Investigasi di bawah komando Wakapolda Papua diharapkan mampu mengungkap fakta secara transparan dan memberikan keadilan bagi para korban.

