Bima, NTB – Slogan “Presisi” Polri kembali diuji oleh borok internal yang memuakkan. Di tengah gencarnya perang melawan narkotika, Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota, AKP Malaungi, justru dikabarkan terjungkal dalam lubang hitam yang ia awasi sendiri. Selasa malam (3/2), tim gabungan Ditresnarkoba dan Bidpropam Polda NTB melakukan operasi senyap yang berakhir pada pengamanan sang perwira.
Pusaran “Bisnis” Sang Anak Buah
Kejatuhan AKP Malaungi bukan tanpa sebab. Namanya mencuat ke permukaan setelah rentetan penyelidikan terhadap Bripka IR alias Karol—oknum anggota polri yang diduga menjadi ‘pemain’ sabu bersama istrinya—mulai bernyanyi. Aroma busuk keterlibatan sang atasan terendus kuat: apakah ini sekadar pembiaran, atau AKP Malaungi memang bagian dari sindikat berseragam?
Ruang Kerja Jadi Sarang?
Kejutan paling memuakkan terjadi saat penggeledahan di markas Satresnarkoba Polres Bima Kota. Ruang kerja yang seharusnya menjadi tempat menyusun strategi pemberantasan narkoba, justru diduga menjadi tempat menyimpan alat bukti dosa.
- Bong (alat hisap) ditemukan berserakan.
- Klip sabu kosong dan beberapa poket kristal haram siap edar ditemukan di area yang seharusnya suci dari barang tersebut.
Ini bukan sekadar kelalaian; ini adalah tamparan keras bagi wajah penegakan hukum di Nusa Tenggara Barat.
Bungkamnya Petinggi: Solidaritas atau Ketakutan?
Respons dari internal Polres Bima Kota terkesan “buang badan”. Wakapolres Bima Kota, Kompol Herman, memilih irit bicara dan melemparkan bola panas ini ke Polda NTB. Sementara itu, Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Muhammad Kholid, masih menggunakan jurus klasik “saya cek dulu”—sebuah respons standar di tengah krisis yang melibatkan perwira menengah.
Pecat atau Lindungi?
Hingga saat ini, AKP Malaungi dikabarkan sedang “dikuliti” secara intensif oleh Bidpropam. Jika perwira berpangkat tiga balok kuning ini terbukti menjadi bagian dari rantai peredaran sabu, maka tuntutan publik jelas: tidak boleh ada ruang bagi pengkhianat seragam.
Masyarakat kini menunggu, apakah Polda NTB punya nyali untuk membongkar tuntas akar mafia narkoba di tubuh Polres Bima Kota, atau kasus ini akan menguap begitu saja di balik meja birokrasi?

