JAKARTA – Polemik soal kritik terhadap lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto kini merembet menjadi adu argumentasi di ruang publik. Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan turun tangan membela mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang sebelumnya disentil Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Alih-alih diam, Anies justru melancarkan pembelaan terbuka yang menegaskan kapasitas dan rekam jejak Dino sebagai salah satu diplomat senior Indonesia. Menurutnya, kualitas seorang tokoh tidak bisa diukur hanya dari lamanya menduduki jabatan tertentu, melainkan dari kontribusi dan pengabdian yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
“Pak Dino Patti Djalal menguasai substansi. Rekam jejaknya juga teruji. Pengalaman memimpinnya luas,” ujar Anies.
Anies menilai Dino merupakan sosok yang tumbuh dan ditempa melalui perjalanan diplomasi yang panjang. Karena itu, ia menolak anggapan yang meremehkan kapasitas Dino hanya karena pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri dalam waktu singkat.
“Dino Patti Djalal bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat,” tegasnya.
Pernyataan Anies merupakan respons atas komentar Teddy Indra Wijaya yang menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wamenlu yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan. Namun bagi Anies, durasi jabatan tersebut tidak relevan jika dibandingkan dengan kiprah panjang Dino di panggung diplomasi internasional.
Untuk memperkuat argumennya, Anies mengenang masa mudanya ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat itu, ia pertama kali mendengar nama Dino yang tampil membela posisi Indonesia dalam forum internasional bergengsi.
Menurut Anies, ketika Indonesia tengah mendapat tekanan dunia internasional terkait isu Timor Timur, Dino yang masih berstatus diplomat muda berani tampil dalam BBC World Debate dan berhadapan langsung dengan tokoh-tokoh internasional berpengaruh.
“Waktu itu saya mendengar ada diplomat muda Indonesia di London tampil di BBC World Debate. Berhadap-hadapan dengan Ramos Horta. Saat Indonesia sedang tersudut, diplomat muda itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia. Di situ saya pertama kali mendengar namanya, Dino Patti Djalal,” kenang Anies.
Pembelaan Anies menegaskan bahwa perdebatan yang muncul bukan sekadar soal kritik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah, tetapi juga menyangkut penghargaan terhadap rekam jejak dan pengalaman panjang seorang diplomat yang telah lama berkecimpung di panggung internasional.
