MEDAN – Wakil Menteri Agama Republik Indonesia (Wamenag RI), Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, menegaskan bahwa idealisme mahasiswa tidak boleh mandek pada sekadar demonstrasi atau kritik tanpa dasar. Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dituntut melek data dan mampu menyusun kajian akademik komprehensif sebagai kompas dalam mengawal kebijakan negara serta mendorong reformasi pelayanan publik.
Pernyataan tajam tersebut disampaikan Wamenag dalam agenda Closing Ceremony Konsolidasi Nasional III Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) PTKIN se-Indonesia yang diselenggarakan di Kampus IV Tuntungan, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Sabtu (24/10/2026).
Pertemuan akbar bertajuk “Sinergi Mahasiswa Bergerak untuk Indonesia: Menyatu dalam Narasi untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045” ini menjadi ajang konsolidasi pemikiran taktis lintas aktivis kampus dalam merespons rapor kinerja pemerintah.
Wamenag mengingatkan agar kontrol sosial yang dilakukan mahasiswa bergeser dari sekadar retorika publik menjadi kemitraan strategis yang berbasis riset objektif.
- Pembeda Utama: Kritik berbasis verifikasi data faktual mutlak diperlukan agar aspirasi publik melahirkan alternatif penyelesaian yang terukur, bukan sekadar riuh opini.
- Fokus Pengawasan: Mahasiswa didorong terjun langsung memvalidasi efektivitas program taktis pemerintah di lapangan, seperti penyaluran bantuan pendidikan dan jaring pengaman sosial.
- Ruang Dialog: Komunikasi dua arah antara elemen mahasiswa dan birokrasi harus dibangun secara intelektual guna mengoptimalkan transparansi tata kelola pemerintahan.
Sikap kritis yang dibarengi argumentasi ilmiah dinilai menjadi instrumen valid untuk memperbaiki sistem birokrasi, sekaligus menjauhkan gerakan mahasiswa dari tuduhan fitnah atau penggiringan opini yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Di lokasi yang sama, Rektor UINSU Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., mengapresiasi forum nasional ini sebagai kawah candradimuka kepemimpinan. Ia menegaskan, institusi pendidikan tinggi bertanggung jawab penuh mencetak formasi generasi muda yang kokoh secara moral, matang secara intelektual, dan responsif terhadap ketimpangan sosial di masyarakat.
Melalui jaringan kolaborasi antarkampus yang adaptif, organisasi mahasiswa wajib bertransformasi menjadi wadah perumus solusi konkret demi menyukseskan peta jalan Indonesia Emas 2045.
















