MEDAN — Pelaksanaan Olimpiade Science Competition Expo (SCE) 2026 se-Sumatera Bagian Utara yang dijadwalkan berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Universitas UNSEN Medan menuai keluhan dari peserta dan orang tua siswa. Sejumlah keluhan yang disampaikan di lokasi berkaitan dengan ketidaksesuaian jadwal, pengaturan tempat, serta kondisi peserta yang disebut berdesakan dan kelelahan.

Kegiatan yang berjudul memperebutkan piala Gubernur Sumut itu menyasar pelajar dari berbagai jenjang pendidikan tersebut sebelumnya dipromosikan sebagai ajang kompetisi sains tingkat regional dengan peserta dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat.
Namun, berdasarkan keluhan yang disampaikan orang tua di lokasi, pelaksanaan kegiatan pada Sabtu (10/10/2026) dinilai belum berjalan sesuai harapan. Pengaturan tempat yang dianggap kurang tertata disebut menyebabkan peserta berdesakan, sementara sejumlah anak dilaporkan mengalami kelelahan saat mengikuti rangkaian kegiatan.Persoalan ini menjadi perhatian karena kegiatan melibatkan anak-anak usia sekolah yang membutuhkan pengaturan ruang, jadwal, antrean, serta pengawasan yang memadai.

Biaya pendaftaran Rp120.000 per peserta dipertanyakan
Selain persoalan teknis pelaksanaan, biaya pendaftaran sebesar Rp120.000 per peserta, sebagaimana disampaikan dalam keluhan, turut menjadi sorotan. Orang tua tentu berharap biaya yang dikeluarkan sebanding dengan pelayanan, kenyamanan, ketertiban, dan keamanan yang diberikan oleh penyelenggara.
Kekecewaan muncul ketika pelaksanaan kegiatan dinilai tidak berjalan sesuai jadwal dan pengaturan peserta dianggap belum memadai. Orang tua berharap panitia memberikan penjelasan terbuka mengenai kendala yang terjadi, sekaligus memastikan seluruh peserta memperoleh pelayanan yang layak.
Orang tua mengaku nyaris pingsan
Salah seorang orang tua siswa yang berada di lokasi mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi yang dialami peserta dan pendamping.
“Anak-anak sudah lemas, saya juga sudah mau pingsan,akses berdesakan,toilet tanpa air,jorok” ungkap orang tua siswa tersebut di lokasi.
Keluhan itu menggambarkan kekhawatiran keluarga yang mendampingi anak-anak dalam kegiatan kompetisi. Apabila kondisi peserta sudah mengalami kelelahan, panitia semestinya memastikan tersedianya akses air minum, tempat beristirahat, petugas yang sigap, serta jalur keluar-masuk yang tidak menghambat pergerakan peserta.
Orang tua juga mempertanyakan kesiapan panitia dalam menangani situasi ketika peserta mengalami kelelahan. Keluhan mengenai respons dan tanggung jawab panitia tersebut perlu dijawab secara terbuka oleh penyelenggara.
Panitia diminta memberikan klarifikasi
Pelaksanaan kompetisi yang melibatkan pelajar semestinya tidak hanya berorientasi pada perlombaan, sertifikat, medali, maupun hadiah. Keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kepastian informasi bagi peserta harus menjadi prioritas utama.
Panitia diharapkan memberikan klarifikasi mengenai penyebab ketidaksesuaian jadwal yang dikeluhkan, mekanisme pengaturan peserta, kesiapan tempat, serta langkah penanganan terhadap peserta yang mengalami kelelahan.
Pihak penyelenggara juga perlu menjelaskan apakah jumlah peserta telah disesuaikan dengan kapasitas lokasi dan apakah petugas kesehatan atau pertolongan pertama telah disiapkan.
Hingga berita ini disusun, keterangan resmi panitia mengenai keluhan-keluhan tersebut belum diperoleh. Karena itu, penyebab keterlambatan, kondisi penumpukan peserta, serta respons panitia masih perlu dikonfirmasi kepada pihak penyelenggara.
Evaluasi menyeluruh diperlukan agar kegiatan pendidikan dan kompetisi bagi pelajar benar-benar memberikan pengalaman positif, bukan justru meninggalkan kekecewaan dan kekhawatiran bagi anak-anak maupun orang tua.
(Lukman H Gultom)
