MEDAN- Banjir kembali menggenangi permukiman warga di kawasan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, pada Kamis (29/10/2026). Hujan yang mengguyur Kota Medan sejak Rabu malam menyebabkan debit air sungai meningkat hingga merendam rumah-rumah warga.
Berdasarkan kondisi yang terlihat dalam dokumentasi warga, air berwarna kecokelatan menggenangi kawasan permukiman dan jalan lingkungan. Sejumlah rumah tampak dikelilingi air, sehingga aktivitas masyarakat berpotensi terganggu.Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan banjir yang berulang di kawasan bantaran sungai Kota Medan, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Air Masuk ke Rumah Warga.
Banjir yang terjadi di kawasan Sei Mati menjadi perhatian karena genangan tidak hanya menutupi jalan, tetapi juga memasuki rumah warga di sejumlah titik.
Laporan media lokal pada Kamis pagi menyebutkan, banjir turut melanda kawasan Gang Setia Baru, Kelurahan Sei Mati. Seorang warga melaporkan air mulai naik sekitar pukul 01.00 WIB setelah hujan turun pada malam sebelumnya.
Di titik terdampak tersebut, ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter.
Sebagian warga dilaporkan memilih mengungsi ke masjid untuk mencari tempat yang lebih aman. Sementara itu, pada beberapa lokasi, genangan mulai berangsur surut, meskipun air masih merendam permukiman.
Sejumlah Wilayah Medan Turut Terdampak
Banjir pada Kamis ini tidak hanya terjadi di Sei Mati. Sejumlah kawasan lain di Kota Medan juga dilaporkan terdampak akibat meningkatnya debit Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan.
Wilayah terdampak meliputi beberapa kelurahan di Kecamatan Medan Maimun, Medan Johor, Medan Selayang, dan Medan Helvetia. Pada sejumlah titik, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar satu hingga satu setengah meter.
Kondisi tersebut mendorong warga menyelamatkan barang-barang penting dan mencari tempat yang lebih aman. Petugas terkait juga melakukan pemantauan serta evakuasi terhadap warga di lokasi yang dinilai berisiko.
Pemerintah Diharapkan Memperkuat Penanganan Banjir
Banjir yang kembali melanda Sei Mati diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan instansi terkait. Penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika air sudah memasuki rumah warga, tetapi juga perlu disertai langkah pencegahan dan mitigasi yang berkelanjutan.
Pemantauan debit sungai, kesiapan evakuasi, perbaikan sistem drainase, serta evaluasi kondisi aliran sungai menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko banjir berulang.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir juga diimbau terus memantau perkembangan ketinggian air dan informasi resmi dari petugas. Apabila air kembali meningkat dan membahayakan keselamatan, warga diharapkan segera menuju tempat yang lebih aman.
Banjir bukan sekadar persoalan genangan air, melainkan menyangkut keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan aktivitas masyarakat. Karena itu, diperlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah, petugas penanggulangan bencana, dan masyarakat agar dampak banjir dapat ditekan.
(Lukman H Gultom)
















